Anies Baswedan, Tokoh Pendidikan Penuh Prestasi

By on October 29, 2013

                                                                                                       

Siapa yang tidak mengenal Anies Baswedan, pria kelahiran Kuningan 7 Mei 1969 ini adalah seorang intelektual muda Indonesia. Pencetus program Indonesia Mengajar ini merupakan rektor termuda yang membawa Universitas yang dipimpinnya, Universitas Paramadina, menjadi salah satu Universitas kelas dunia. Dengan komitmennya terhadapa pendidikan di Indonesia, ia mendapat penghargaan yang membuat namanya disejajarkan dengan 230 orang pemimpin muda di dunia. Anies dipandang memiliki potensi yang dapat membawa perubahan-perubahan baik di masa mendatang.

Sifat kepemimpinan dan kepeduliannya ini sudah terlihat sejak ia masih kecil. Ketika ia masih berumur 12 tahun, ia sudah membentuk kelompok ana-anak muda dikampungnya untuk membentuk kegiatan-kegiatan bermanfaat seperti olahraga. Sejak kecil, ia juga sangat hobi membaca buku khususnya buku-buku tentang biografi kepahlawanan. Hobinya inilah yang menambah sifat kepemimpinan Anies Baswedan.

Ketika ia menginjak SMP, jiwa sosialnya semakin terasah ketika ia dipilih menjadi Ketua Seksi Pengabdian Masyarakat di sekolah. Yang dimana kegiatannya seperti mengabarkan dan mengumpulkan dana jika ada anggota keluarga dari siswa, guru atau karyawan di sekolah itu yang sakit atau meninggal. Di sini Anies berlatih berbicara di depan umum, karena setiap ada musibah ia lah yang bicara dari kelas ke kelas untuk menghimpun bantuan.

Setelah menlanjutkan ke jenjang SMA, belum genap ia satu tahun menjadi siswa SMA,ia diminta untuk menjadi Wakil Ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS). Ia pun menjadi utusan dari sekolahnya untuk menjadi wakil untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan di Jakarta pada September 1985. Dari kegiatan inilah, lahir sesosok pemimpin, Anies Baswedan. Pada tahun kedua, ia mendapat beasiswa pertukaran pelajar ke Amerika. Dari sini, pikirannya semakin terbuka dan wawasannya semakin luas. Setelah ia kembali ke Indonesia, ia mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan jurnalistiknya. Anies terpilih sebagai salah satu pewawancara yang mewawancarai tokoh-tokoh nasional. Kesempatan ini membuat cakrawal pengetahuannya semakin luas.

Anies kemudian melanjutkan pendidikannya di fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada. Saat kuliah, ia aktif sebagai ketua senat mahasiswa. Saat kuliah ia juga mendapatkan beasiswa dari Japan Airlines Foundation karena memenangkan sebual lomba menulis tentang lingkungan. Anies lulus kuliah pada tahun 1995, setahun kemudian ia mendapat beasiswa melanjutkan studi master bidang International Security and Economic Policy, di University of Maryland, College Park. Sewaktu kuliah ia dianugerahi William P. Cole III Fellow di Maryland School of Public Policy, ICF Scholarship, dan ASEAN Students Award. Setelah lulus dari program master ia mendapatkan beasiswa program doktoral dari Northern Illinois University.

Pada 15 Mei 2007, Anies Baswedan menemui momen penting dalam kariernya. Ia dilantik menjadi Rektor Universitas Paramadina, menggantikan posisi yang dulu ditempati oleh cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid atau biasa disapa dengan Cak Nur, yang juga merupakan pendiri universitas tersebut. Dilantiknya Anies menjadi rektor membuatnya tercatat sebagai rektor termuda di Indonesia, dimana saat itu usianya baru menginjak 38 tahun.

Melalui  program Gerakan Indonesia Mengajar,  Anies Baswedan mengajak para kaum muda Indonesia yang telah selesai berkiprah di kampus, untuk terjun ke pelosok-pelosok negeri ini. Mereka diharapkan dapat menyebarkan harapan dan optimisme itu. Para pemuda juga diminta untuk terus memberikan inspirasi dan motivasi, sehingga anak-anak negeri di pelosok dapat selalu tampil dengan sikap penuh percaya diri dan optimis untuk terus maju. Dengan begitu akan muncul calon pemimpin bangsa yang dapat menciptakan serta membawa Indonesia sebagai bangsa dan negara yang besar serta berkarakter kuat. Sampai saat ini, Anies Baswedan masih menjadi salah satu pendiri dan ketua yayasan Gerakan Indonesia Mengajar.

Selama karirnya, Anies mendapat sejumlah penghargaan tingkat dunia. Pada Mei 2008, Majalah Foreign Policy menjadikan dia salah satu dari “100 Intelektual Publik” dan World Economic Forum (WEF) memasukannya ke dalam deretan “Pemimpin Muda Global 2009”. Pada April 2010, Majalah Foresight dari Jepang menyebutnya sebagai “20 Pemimpin Masa Depan Dunia”. Sedangkan pada Juni 2010, Institute for International Policy Studies (IIPS) memberikan Nakasone Yasuhiro Awards kepada Anies. Satu bulan kemudian, Royal Islamic Strategic Studies Centre yang berpusat di Yordania memasukkan Anies ke dalam daftar “500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia”. (Hikari/ensiklopediaindonesia.com) (Foto: hppjww.blogspot.com)