Benyamin Syueb, Komedian Multi Talenta yang Legendaris

By on March 28, 2015

Siapa yang tak mengenal salah satu komedian legendaris asal Indonesia ini, Benyamin Syueb (1939-1995). Meskipun ia adalah seorang komedian, tapi ia juga seorang yang multi talenta. Hal ini bisa dilihat dari karya-karyanya yang dikaryakan. Selama hidupnya, beliau sudah menghasilkan kurang lebih 75 album musik, 53 judul film, serta menyabet dua Piala Citra. Ia juga berjasa dalam mengembangkan seni tradisional Betawi, khususnya kesenian Gambang Kromong hingga dikenal hingga mancanegara. Kepiawaiannya dalam dunia entertainment tak lepas dari pengaruh seni kedua kakenya,  yaitu Saiti, peniup klarinet dan Haji Ung (Jiung), pemain teater rakyat di zaman kolonial Belanda.

Bakat seni Benyamin sudah terlihat saat ia masih kecil. Bersama tujuh saudaranya, ia sempat membuat orkes kaleng. Benyamin bersama saudara-saudaranya membuat alat-alat musik dari barang bekas. Rebab dari kotak obat, stem basnya dari kaleng drum minyak besi, keroncongnya dari kaleng biskuit. Dengan “alat musik” itu mereka sering membawakan lagu-lagu Belanda tempo dulu. Kelompok musik kaleng rombeng yang dibentuk Benyamin inilah yang menjadi cikal bakal kiprah Benyamin di dunia seni.

Kesuksesannya dalam dunia musik diawali dengan bergabungnya Benyamin dengan  grup Naga Mustika. Orkes Gambang Kromong Naga Mustika dilandasi dengan konsep musik Gambang Kromong Modern. Unsur-unsur musik modern seperti organ, gitar listrik, dan bass, dipadu padankan dengan alat musik tradisional seperti gambang, gendang, kecrek, gong serta suling bambu. Duetnya bersama Ida Royani menjadi duet paling populer pada saat itu dan lagu-lagu yang mereka bawakan meraih sukses besar.

Lagu-lagu yang dibawakan olehnya tak hanya digemari masyarakat Betawi saja, tapi juga masyarakat di seluruh Indonesia. Lagu-lagu andalannya yang laku keras di pasaran seperti Kompor Mleduk, Nyai Dasimah, dan Tukang Garem. Terlebih saat ia berduet dengan Bing Slamet dengan lagunya yang berjudul Nonton Biskop. Dengan semakin berkembangnya seni musik di Indonesia, hal ini membuat Benyamin juga merambah jenis musik yang sedang mewabah pada tahun 1970-an, seperti blues, rock, hustle, dan disko. Meskipun begitu, Benyamin tidak lupa pada keroncong dan seriosa.

ensiklopediaindonesia-benyamin

Selain di dunia musik Benyamin sukses juga di dunia film. Beberapa filmnya, seperti Banteng Betawi (1971), Biang Kerok (1972), Intan Berduri serta Si Doel Anak Betawi (1976) yang disutradari Syumanjaya, semakin mengangkat ketenarannya. Dalam Intan Berduri, Benyamin mendapatkan piala Citra sebagai Pemeran Utama Terbaik.

Benyamin meninggal dunia pada 5 September 1995 akibat serangan jantung setelah koma beberapa hari seusai main sepak bola. Benyamin dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Sesuai wasiat yang ia tinggalkan, agar dia dimakamkan bersebelahan dengan makam Bing Slamet yang dia anggap sebagai guru, teman, dan sosok yang sangat memengaruhi hidupnya. (ensiklopediandonesia.com)