BJ Habibie, Presiden Ketiga Republik Indonesia

By on June 25, 2013

Terlahir dengan nama lengkap Bacharuddin Jusuf Habibie,anak keempat dari delapan bersaudara dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan R.A. Tuti Marini Puspowardojo ini lahir di Parepare, Sulawesi Selatan 25 Juni 1936. Pria yang tercatat sebagai Presiden ketiga Republik Indonesia ini merupakan Wakil dan juga PresidenIndonesia dengan masa jabatan tersingkat, kala itu ia mengganikan posisi Soeharto yang mengundurkan diri dari jabatan Presiden pada 20 Oktober 1999, terbilang masa jabatannya selama 2 bulan 7 hari sebagai Wakil Presiden dan 1 tahun 5 bulan sebagai Presiden RI.

Lulus dari SMAK Dago, bandung – Jawa Barat, ia melanjutkan pendidikannya di Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1954 mengambil jurusan Teknik Mesin, kemudian di tahun 1955 ia melanjutkan studinya dengan menekuni Teknik Penerbangan, spesialisasi kontruksi pesawat terbang di RWTH Aacnhen Jerman Barat lalu menerima gelar Diplom Ingenieur pada tahun 1960, dan meraih gelar Doktor Ingenieur tahun 1965 dengan predikat Summa Cum Laude. Semasa muda, ia pernah bekerja di sebuah perusahaan penerbangan yang berpusat di Hamburg, Jerman bernama Messerschmitt-Bolkow-Blohm, ia kembali ke Indonesia pada tahun 1973 atas permintaan Presiden yang menjabat saat itu, Soeharto. Karirnya di dunia politik diawali ketika ia menduduki jabatan sebagai Menteri negara Riset dan Teknologi tahun 1978 – Maret 1998, kala menjadi menteri, ia pun diangkat menjadi ketua umum ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia).

Ketika menjadi Presiden, Habibie mau tak mau diwarisi kondisi negara yang kacau balau pasca pemberontakan reformasi orde baru, kerusuhan, pmberontakan, dan disintegrasi terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia, begitu menjadi Presiden, ia pun membentuk kabinet dan mengejar misi awal yakni mendapatkan kembali dukungan dari Dana Moneter Internasional dan komunitas negara-negara donor untuk program pemulihan kondisi ekonomi, ditambah lagi aksinya membebaskan para tahanan politik dan mengurangi kontrol pada kebebasan berpendapat serta berorganisasi (sehingga bermunculan banyak partai pada masa kini). Pada era pemerintahannya yang singkat tersebut ia berhasil memberikan landasan kokoh bagi Indonesia, pada eranya dilahirkan UU Anti Monopoli atau UU Persaingan Sehat, perubahan UU Partai Politik dan yang paling penting adalah UU Otonomi Daerah (UU Otonomi Daerah ini yang kemudian mampu meredam gejolak disintegrasi yang sudah ada sejak jaman orde baru kemudian dituntaskan di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono).Pengangkatannya menjadi Presiden menimbulkan pro dan kontra, namun terlepas dari itu, pada masa kepemimpinannya nilai tukar rupiah meroket naik level hingga Rp.6500,- per Dolar AS yang mana tidak pernah dicapai lagi di era pemerintahan selanjutnya. Setelah turun dari jabatannya sebagai Presiden, beliau lebih banyak tinggal di Jerman daripada di Indonesia. Namun saat era kepemimpinan Presiden SBY, ia kembali aktif berperan sebagai penasihat Presiden untuk mengawali proses demokratisasi di Indonesia lewat organisasi yang didirikannya Habibie Center,

Sudah banyak prestasi yang diukirnya, salah satunya adalah beredarnya buku bertajuk Habibie dan Ainun yang mengisahkan tentang cerita cinta serta perjalanan hidup bersama sang Istri, Hasri Ainun Besari yang kemudian diangkat ke layar lebar dan diperankan oleh Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari. Pernikahannya dikaruniai dua orang putra yakni Ilham Akbar dan Thareq Kemal. (Arisca Meir/inloveindonesia.com)(Foto: kapanlagi.com)