Gamal Albinsaid, Dokter Yang Sukses Karena Dibayar Sampah

By on December 3, 2014

Seringkali kita mendengar isu yang mengatakan bahwa dokter dibayar mahal karena untuk ‘balik modal’ saat menjalani masa pendidikannya. Namun dokter muda yang satu ini justru berbeda. Ia rela dibayar sampah oleh para pasiennya sebagai ganti jasa pengobatan mereka.

Pada awal tahun, tepatnya 31 Januari 2014, Gamal berhasil meraih penghargaan dari Kerajaan Inggris karena program yang dirintisnya. Dokter muda ini meraih penghargaan HRH The Prince of Wales Young Sustainability Entrepreneurship First Winner 2014. Penghargaan tersebut diselenggarakan oleh Unilever dan Cambridge University dan merupakan kehormatan dan Pangeran Charles kepada entrepreneur muda yang peduli pada sumberdaya yang berkelanjutan.

Gamal Albinsaid, seorang dokter muda yang merupakan alumni Universitas Brawijaya fakultas Kedokteran ini lahir di Malang 25 tahun lalu. Ia berhasil meraih berbagai penghargaan dalam bidang kesehatan.

Hingga akhirnya ada suatu berita yang membuatnya terharu. Bagaimana tidak, ia menyaksikan sebuah berita dimana seorang gadis kecil meninggal di atas gerobak ayahnya yang seorang pemulung. Ia tidak mampu berobat lantaran penghasilannya ayahnya yang hanya 10 ribu rupiah per harinya. Akhirnya, muncul ide untuk mengumpulkan sampah dimana hasilnya nanti dapat digunakan untuk berobat. Ia pun mengajak warga setempat untuk mensosialisasikan program klinik sampah ini.

Klinik Asuransi Sampah merupakan asuransi kesehatan mikro berbasis kerakyatan dengan sampah sebagai sumber pendanaan utama pelayanan kesehatan masyarakat. Warga cukup menyerahkan sampahnya kepada Klinik Asuransi Sampah senilai Rp 10.000 rupiah setiap bulan dan bisa menikmati berbagai fasilitas kesehatan. Metode Takakura dan daur ulang menjadi metode yang digunakan dalam sistem ini. Sampah diolah menjadi ‘Dana Sehat’ dan digunakan untuk pelayanan kesehatan secara holistik, yaitu promotif (meningkatkan kesehatan), preventif (mencegah sakit), kuratif (mengobati sakit), dan rehabilitatif (rehabilitasi yang sembuh). Sehingga walaupun tidak sakit, masyarakat tidak akan rugi, karena mendapatkan berbagai program peningkatan kesehatan.

Konsep yang digunakan dalam Klinik Asuransi Sampah ini bersifat sosioenterpreneur, yaitu dengan menggunakan sampah sebagai sumber pembiayaan, menerapkan sistem pelayanan kesehatan holistik, dan memberikan akses yang luas karena setiap orang memiliki sampah. Hingga kini, ia telah menerapkan konsep ini pada 5 klinik.

Dengan konsepnya yang bersifat sosial, selain mengandalkan dana dari pengumpulan sampah, ia bersama Tim Indonesia Medika juga melakukan banyak kerja sama dan juga mendapatkan banyak pendanaan dari donatur maupun program CSR perusahaan. (Hikari/ensiklopediaindonesia)