KH. A.Wahid Hasyim, Ulama Muda Indonesia

By on April 30, 2013

KH. A. Wahid Hasyim lahir pada 1 Juni 1914 adalah putra kelima dari KH. Hasim Asyari. Beliau sejak kecil adalah seorang anak yang sangat cerdas. Tidak hanya diakui oleh kalangan Nahdliyyin, tapi juga oleh kalangan pendidikan, politikus dan kelompok nasionalis di negeri ini. Wafat di usia masih muda yaitu 39 tahun, tetapi telah memberikan karya yang luar biasa bagi bangsa dan negara.

KH A. Wahid Hasyim adalah pribadi yang cerdas dan lihai dalam berpidato. Terutama sekali karena pidatonya selalu didukung dan dilengkapi dengan tema-tema yang disitir dari berbagai buku. KH. A Wahid Hasyim tidak kesulitan mencari referensi baik itu dari berbahasa Arab, Inggris, atau Belanda. Karena, meskipun beliau tidak pernah mengenyam pendidikan kolonial, namun saat berusia 15 tahun, beliau mampu menguasai abjad latin dan bahasa Inggris dan Bahasa Belanda. Pada umur 18 tahun, beliau pergi ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan memperdalam ilmu agama selama 2 tahun.

Semenjak tahun 1939 (Usia 25 tahun) KH. A Wahid Hasyim dipercaya menjabat sebagai Ketua MIAI (Majelis Islam A’la Indonesia), Akan tetapi tatkala zaman pendudukan Jepang, kelompok MIAI bubar. Kemudian atas prakarsa KH A. Wahid Hasyim MIAI menjelma menjadi ”Majelis Syuro Muslimin Indonesia” (Masyumi). Melalui Masyumi ini, terbentukalah badan Pusat latihan Hizbullah di Cibarusa, Bogor, Sekolah Tinggi Islam di Jakarta dan penerbitan Majalah ”Suara Muslimin” yang mula-mula dipimpin oleh KH Saifuddin Zuhri dan kemudian beralih ke tangan Harsono Cokroaminoto.

Selama zaman kependudukan Jepang KH A. Wahid Hasyim merupakan tokoh sentral di kalangan Umat Islam. KH A. Wahid Hasyim juga menjabat sebagai anggota Chuuo Sangi In yakni semacam DPR ala Jepang. Dengan jabatan tersebut KH A. Wahid Hasyim dapat menyakinkan tentara Jepang untuk mendirikan sebuah badan yang menghimpun kalangan ulama. Maka terbentuklah Badan yang bernama Shumubu, yaitu Badan Urusan Agama Islam yang susunannya terdiri dari: KH. Hasyim Asy’ari selaku Ketua, KH. Abdul Kahar Muzakir selaku Wakil Ketua dan KH A. Wahid Hasyim selaku Wakil Ketua. Karena KH Hasyim Asy’ari tidak dapat aktif karena mengasuh Pesantren Tebuireng, maka jabatan ketua sehari-hari dipegang oleh KH A. Wahid Hasyim. Badan inilah yang menjelma menjadi Departemen Agama (setelah proklamasi 17 Agustus 1945) .

Pada saat pembentukan BPUPKI, Wahid Hasyim merupakan anggota yang paling muda diantara 62 anggota. Ia ga merupakan tokoh termuda dari sembilan tokoh nasional yang menandatangani Piagam Djakarta, yang melahirkan proklamasi dan konstitusi negara.

Pada tanggal 18 April 1953, beliau bersama putranya Abdurraman Wahid (Gusdur), pergi ke Sumedang untuk menghadiri rapat NU. Namun ditengah perjalanannya, mobil yang ia tunggangi mengalami kecelakaan hingga menyebabkan beliau pingsan, dan akhirnya beliau wafat pada tanggal 19 April 1953 dalam usia 39 tahun. Jenazahnya dimakamkan di Pesantren Tebuireng, Jombang. (Hikari/inloveindonesia.com)