Kesenian Karapan Sapi, Identitas Masyarakat Madura

By on September 30, 2013

Indonesia terdiri akan keberagaman seni dan budaya yang justru menjadi kekayaan yang tak terhingga, setiap daerah punya karya seninya masing-masing yang jadi ciri khas sekaligus identitas daerah yang bersangkutan. Begitu juga dengan Pulau Madura, Jawa Timur, daerah yang terkenal akan hasil garamnya ini punya kesenian perlombaan pacuan sapi yang terkenal dengan sebutan Karapan Sapi. Karapan Sapi sendiri merupakan pertunjukkan sepasang sapi yang menarik kereta kayu tempat sang joki berdiri sambil mengendalikan sepasang sapi tersebut yang kemudian dipacu dalam lomba adu cepat melawan pasangan sapi-sapi lain. Biasanya balapan pacuan sapi ini diselenggarakan di sebuah trek pacuan sepanjang 100 meter dengan batas waktu hingga 1 menit. Pagelaran pacuan sapi ini biasanya diadakan setiap bulan Agustus atau September tiap tahunnya. Awal mula pagelaran ini muncul dilatar belakangi oleh kontur tanah di kawasan Madura yang terbilang kurang subur dan tidak cocok menjadi lahan pertanian, sebagai gantinya, masyarakat Madura pada masa itu mengalihkan penggunaan tanah untuk berternak sapi selain sebagai nelayan. Menurut sumber wikipedia, kala itu seorang ulama bernama Syeh Ahmad Baidawi mengenalkan sistem bercocok tanam menggunakan sepasang bambu dan ditarik dua ekor sapi, maksud awal diadakkannya karapan sapi semata-mata untuk kepentingan “audisi” untuk memperoleh sapi-sapi yag kuat untuk membajak sawah, gagasan ini justru menimbulkan tradisi baru yakni karapan sapi yang justru menjadi pagelaran idola yang disuka masyarakat Madura bahkan hingga luar Madura dan mengundang minat wisatawan asing yang kemudian diadakan rutin.

img_1199

Karapan Sapi, dibagi menjadi 4 babak, dan dalam pelaksanaannya diriingi Soronen, alat musik tradisional khas Madura. Menonton Karapan Sapi, anda tak hanya disuguhi adu cepat ketangkasan joki dalam mengendalikan sapi, namun juga anda bisa menikmati arak-arakan sapi sebelum mereka beradu di arena, namuan ada beberapa komunitas tertentu yang tidak setuju dengan eksistensi Karapan Sapi,mereka menilai kegiatan ini sebagai kegiatan penyiksaan hewan, bagaimana tidak, untuk menambah laju kecepatan sapi, mereka dipasangi sabuk yang penuh paku tajam ditambah sang joki yang melecutkan semacam cambuk tajam yang dipukul ke bokong sapi. Bagaimana sapi tidak melaju makin cepat ? ia mengalami sakit pada tubuh yang memicunya untuk mempercepat laju larinya, tapi setelah bertanding, sapi-sapi tersebut diistirahatkan dan dirawat supaya lukanya sembuh. Apalagi bila sapi-sapi tersebut jadi juara, harganya akan melambung tinggi setelahnya. Konon perawatan sapi-sapi karapan ini butuh biaya yang tak tanggung-tanggung, setiap hari sapi diberi makan 40 butir telur ayam kampung, madu, jamu-jamuan serta bir hitam plus mendapatkan terapi pijat setiap malam, tak heran bila pemiliknya merupakan orang-orang berduit. So, bagaimana dengan anda ? tertarik melihatnya ? (Arisca Meir/ensiklopediaindonesia.com) (Foto: rotyyu.wordpress.com; rijal007.blogspot.com)