Kisah Bekas Kenek Jadi Pengusaha Sukses di London

By on February 28, 2013

Jika anda berkunjung ke London, Nusa Dua Restaurant patut untuk disinggahi. Restaurant yang berada di sudut Dean Street 11, Soho, London itu adalah satu-satunya restauran Indonesia di kawasan belanja tersebut. Sejak kedatangan Presiden Barrack Obama ke Indonesia, nasi goreng menjadi menu favorite para pelanggan disini. Selain itu, ada banyak makanan khas Indonesia di daftar menu: ayam kremes, sayur asem, sambal terasi, tahu isi, soto ayam, tempe, dan kerupuk udang.

Firdaus Ahmad, adalah pemilik Restaurant  ini. Kesuksesan yang ia capa kini adalah hasil kerja kerasnya selama 20 tahun. Daus nekat berangkat ke Inggris menggunakan tiket dari saudaranya karena penghasilan sebagai kondektur angkutan kota Kampung Melayu-Bekasi tak menentu.

Setelah itu Daus lalu bekerja di restoran Indonesia sebagai pencuci piring. Tapi restauran ini tak berumur lama. Pemiliknya ketahuan mengakali pajak. Pemerintah mengambil alih dan menjualnya.

Seorang pengusaha Singapura kemudian mendirikan Nusa Dua Restaurant. Daus diajak bergabung dan naik pangkat jadi chef. Tapi ini hanya bertahan tiga tahun. Pengusaha itu tak sanggup membayar cicilan modal. Royal Bank of Scotland (RBS) menyitanya.

Pada 1991 ia sudah menikahi Usya Suharjono, anak dari seorang wartawan radio BBC seksi Indonesia. Daus punya ide mengambil alih Nusa Dua.

Usya maju sebagai negosiator dengan bank karena ia fasih berbahasa Inggris. Usya membujuk bahwa resto itu merugikan RBS karena tak mendatangkan untung, sementara pajak tetap harus dibayar.

Daus meyakinkan mereka akan mengelola rumah makan dengan jaminan membayar cicilan 1.000 pound tiap bulan tepat waktu. Sejak itu, Daus yang pegang kendali. Ia belanja, ia memasak, ia pula yang melayani pembeli. Karena makanan racikannya enak, pelanggan lama kembali, dan pembeli baru berdatangan. Restorannya mulai untung dengan omzet 10 ribu pon (Rp 140 juta) setiap pekan.

Setelah semua pencapaian ini, Daus hanya punya satu cita-cita: pulang kampung setelah anak-anaknya mandiri dan membuat taman pendidikan agama untuk anak-anak miskin. (Hikari Chan/inloveindonesia.com)