Mahasiswa Indonesia Terpilih Jadi Peneliti Ekspedisi ke Mars

By on July 14, 2014

Salah satu mahasiswa S3 University of Melbourne yang berasal dari Indonesia, Bagus Nugroho, berhasil terpilih menjadi satu di antara tiga peneliti seluruh dunia yang mendapat kesempatan melakukan riset untuk program ekspedisi Jepang ke Planet Mars. Bagus akan berkesempatan meneliti parasut khusus yang akan digunakan pada proses pendaratan robot ekspedisi (probe) oleh badan eskplorasi ruang angkasa Jepang (JAXA).

Mahasiswa yang berasal dari Yogyakarta ini sudah mengenyam pendidikan di Australia selama 12 tahun. Tahun 2008, ia menyelesaikan program sarjananya di bidang Teknik Mekanik dan Fisika dari University of Melbourne dan melanjutkan studi doktoral di universitas yang sama.

Dan sekarang Bagus melakukan riset di bidang aerodinamika yang difokuskan pada peningkatan efisiensi fenomena gesekan yang sering terjadi di permukaan padat. Selama studi doktoralnya, ia juga mengambil program pascasarjana pada bidang Bisnis di University of Melbourne dan nanoteknologi di University of Oxford. Berkat studi dan pengalamannya itulah Bagus terpilih menjadi salah satu peneliti program ekspedisi Jepang ke Mars.

Seperti yang dikutip pada Radio ABC Australia, Bagus akan bekerja bersama dengan dua mahasiswa terpilih lainnya tentang penggunaan terowongan angin supersonik guna meneliti kinerja parasut supersonik yang berperan penting pada proses pendaratan probe milik Jepang di Mars. Parasut ini sangat berperan penting dalam memastikan robot ekspedisi mendarat dengan selamat.

“Karena proses pendaratan yang sangat cepat, kita tidak bisa menggunakan parasut biasa. Melainkan, kita harus menggunakan parasut supersonik yang dapat bertahan pada proses pendaratan tersebut,” jelas Bagus.

Selama masa studinya, Bagus memang sudah sering bekerja dengan fasilitas terowongan angin yang ada di Universitas. Namun baginya, riset yang akan dilakukan di Jepang ini adalah pertama kalinya ia akan bekerja dengan terowongan angin supersonik.

Ekspedisi dan perjalanan ke ruang angkasa memang sudah menjadi perhatiannya selama ini. “Saya memang selalu suka dan tertarik dengan pesawat dan ekspedisi ke luar angkasa. Waktu itu saya sedang iseng melihat situs milik JAXA dan ternyata mereka sedang mencari staff riset yang memiliki keahlian di bidang teknik,” ujarnya.

Dengan terbatasnya fasilitas riset ruang angkasa di dunia, tingkat persaingan untuk menjadi bagian dalam riset ini tentunya sangat tinggi. Bagus mengaku kaget dan bahagia ketika dirinya terpilih menjadi salah satu peneliti di program ini.

“Ketika itu adalah hari terakhir aplikasi ketika saya mengirimkan aplikasi saya, dan ternyata saya terpilih,” ungkapnya.

Misi yang akan dijalankan oleh JAXA ini tidak jauh berbeda dengan yang sudah dilakukan NASA di Mars melalui ekspedisi Mars Curiosity.

Selama 50 tahun belakangan ini, ekspedisi perjalanan ke Mars memang sudah menarik perhatian banyak negara, dan Jepang adalah salah satu negara yang memiliki fasilitas memadai untuk melakukan ekspedisi tersebut ke Mars. Apabila berjalan dengan lancar, probe yang dikirim akan menyelidiki berbagai mineral dan bebatuan yang ada di Mars.

Bagus berangkat ke Jepang pada tanggal 12 Juli 2014 dan akan menjalankan penelitian selama satu bulan yang bakal diadakan di pusat riset teknologi inofatif milik JAXA di Kota Chofu. (sumber: Radio ABC Australia)