Makna Filosofis dari Tokoh Punakawan (Semar – Bagian 1)

By on February 19, 2014

Dalam dunia pewayangan di Indonesia tentu tidak asing dengan nama Semar, Gareng, Petruk dan Bagong. Mereka berempat adalah lakon Punakawan yang menjadi para abdi bagi Ksatria Pandawa. Dalam kisah Mahabharata versi India mereka tidak pernah ada, karena tokoh Punakawan tersebut adalah kreasi para leluhur tanah Jawa.

Mayoritas rakyat Jawa percaya bahwa yang menciptakan keempat tokoh tersebut adalah Sunan Kalijaga dalam rangka berdakwah ajaran Islam melalui media wayang. Beliau menggunakan arus besar budaya wayang Mahabharata pada era tersebut untuk mempermudah beliau memasukkan unsur-unsur Islami di tengah-tengah masyarakat Jawa.

Punokawan adalah pengawal bagi para Ksatria Pandawa, secara awam mereka itu hanyalah abdi dalem yang dipandang dari kaca mata manusia tidaklah begitu penting, namun hal tersebut memliki korelasi keberadaan punokawan dan pendawa. Bahwa untuk mencapai derajat mulia, penuh kebajikan maka memerlukan kawan, pendamping dalam bentuk perilaku seperti para punokawan. Mari kita simak satu persatu tokoh Punakawan tersebut, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong.

Semar adalah figur utama dalam setiap pementasan wayang kulit karena tokoh semar ini merupakan sang pembawa pesan atau messenger. Sebagai figur utama, karakter Semar memiliki perbedaan dengan tokoh wayang utama, Semar memiliki pembawaan karakter yang santai cenderung humoris namun setiap pesannya memiliki keseriusan yang mendalam. Dengan karakter serius tapi santai, pesan moral lewat tokoh Semar lebih mudah diterima dan dicerna bagi setiap penikmat pertunjukan wayang kulit.

Tokoh Semar juga memiliki nama lain yang mengagumkan yaitu Badranaya. Nama Badranaya itu berasal dari kata bebadra yang artinya membangun sarana dari dasar, sedangkan naya atau nayaka yang berarti utusan. Jadi makna dari kata Badranaya, mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi kesejahteraan manusia.

Semar memiliki potongan rambut mirip tokoh Tintin -dalam bahasa jawa potongan model kuncung-, dari potongan rambutnya ini memiliki makna sebagai seseorang yang memiliki kepribadian melayani. Semar adalah pelayan umat tanpa memiliki tendesi apapun untuk melaksankan ibadah amaliah sesuai dengan perintah Allah SWT. Selain itu Semar juga selalu mengenakan kain jarik motif Parangkusumorojo, yang merupakan perwujudan Dewonggowantah atau untuk menuntun manusia agar memayuhayuning bawono, yaitu menegakkan keadilan dan kebenaran di bumi.

Ucapan Semar setiap kali mengawali dialog selalu dengan kata-kata “mbergegeg, ugeg-ugeg, hmel-hmel, sak dulito, langgeng” Maksudnya dari ucapan Semar itu kira-kira begini, daripada diam (mbergegeg) lebih baik berusaha untuk lepas (ugeg-ugeg) dan mencari makan (hmel-hmel) walaupun hasilnya sedikit (sak ndulit) tapi akan terasa abadi (langgeng). Benar-benar sebuah pesan moral yang sangat dalam agar kita selalu bekerja keras untuk mencari nafkah, walaupun hasilnya hanya cukup untuk makan, namun kepuasan yang didapat karena berusaha tersebut akan abadi.  (aanardian/ensiklopediaindonesia.com – foto)