Malin Kundang, Kisah Rakyat Penuh Makna

By on March 6, 2013

Indonesia memang kaya, dari tradisi, kekayaan alam, kekayaan kuliner juga memiliki beragam kisah legenda dan cerita rakyat yang sarat akan pesan moral. dari sekian banyak legenda atau cerita rakyat yang beredar, salah satu yang paling terkenal adalah kisah Malin Kundang, bahkan kisah ini pernah diangkat menjadi serial sinetron beberapa tahun lalu. Kira-kira beginilah ceritanya :

Pada zaman dahulu hiduplah seorang janda yang bernama Mande Rubayah. Mande Rubayah mempunyai seorang putra bernama Malin Kundang. Mereka tinggal di perkampungan Pantai Air Manis, Padang – Sumatera Barat. Kondisi perekonomian mereka kian memburuk setelah sang suami pergi berlayar dan tidak pernah kembali lagi. Mande Rubayah terpaksa harus membesarkan Malin Kundang dengan keringat sendiri. Malin Kundang sangat disayang oleh ibunya, dia termasuk anak yang cerdas tapi sedikit nakal. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.

Setelah Malin beranjak dewasa, ia memutuskan untuk mencari nafkah ke luar pulau karena tidak tega melihat sang ibu membanting tulang untuk menghidupkan keluarga. Awalnya sang ibu tidak setuju mengingat suaminya dulu tidak pernah kembali setelah merantau. Pada akhirnya sang ibu mengizinkan karena Malin bersikeras untuk pergi merantau. Namun ia tetap bersikukuh demi perubahan hidup.

Kemudian Malin Kundang menumpang kapal seorang saudagar. Selama di kapal Malin belajar tentang pelayaran, banyak ilmu serta pengalaman sudah ia dapatkan. Banyak pulau sudah dilaluinya, sampai pada akhirnya kapal yang ditumpangi Malin dibajak oleh perompak. Malin bersembunyi di balik kayu kapal, semua awak terbunuh dalam serangan perompak. Malin terombang-ambing di tengah laut dan akhirnya dia terdampar di suatu pulau. Pulau tersebut sangat subur karena warganya yang gigih dalam bekerja. Dengan tenaga seadanya, Malin berjalan menuju kota tersebut.

Singkat cerita, di pulau ini Malin Kundang bekerja dengan giat, sampai akhirnya dia menjadi kaya raya dan mampu mempersunting seorang wanita yang ia jadikan istri. Malin mempunyai kapal dagang dan beberapa anak buah. Kekayaan Malin Kundang akhirnya terdengar oleh sang ibu, Mande Rubayah. Mande sangat senang sekali mendengar kabar bahwa anaknya sudah berhasil. Sejak saat itu Mande Rubayah selalu menunggu di dermaga untuk menyaksikan anaknya pulang. Setelah lama menikah akhirnya Malin memutuskan untuk pergi berlayar bersama istri dan anak buahnya. Benar saja, tak lama Malin menuju pulau kelahirannya. Sang ibu melihat dari jauh ada dua orang sedang berdiri di atas kapal dan Mande Rubayah yakin bahwa itu anak beserta menantunya.

Ibu Malin Kundang pun mendekati kapal agar bisa lebih yakin bahwa itu adalah anaknya. Pada saat mendekati kapal, Mande Rubayah semakin yakin bahwa dia adalah Malin Kundang setelah melihat bekas luka di lengan kanan pemuda tersebut. Dia mendekat dan berkata “Malin Kundang anakku, kenapa kau pergi begitu lama tanpa memberi kabar ibumu?” seraya memeluk anaknya penuh rindu.  Tetapi melihat wanita tua berpakain lusuh dan kotor memeluknya, ia malu, ia kemudian menjadi marah, padahal Malin mengetahui bahwa itu memang ibunya. Malin marah karena gengsi terhadap istri dan anak buahnya. Karena diperlakukan seperti itu, Mande Rubayah marah dan sakit hati kepada Malin Kundang. Dia berdoa jika memang benar dia Malin Kundang kutuklah dia menjadi batu karena telah durhaka melupakan ibu kandungnya sendiri.

Malin Kundang kembali berlayar dan di tengah jalan badai besar terjadi menghacurkan kapalnya, doa sang ibu dikabulkan, secara perlahan tubuh Malin Kundang mendadak kaku, ia menangis penuh penyesalan hingga jatuh terduduk kemudian membatu dengan posisi seperti orang bersujud. Sampai saat ini Batu Malin Kundang masih dapat dilihat di pantai Air Manis, di selatan kota Padang, Sumatera Barat. (Arisca Meir/inloveindonesia.com/Sumber: palingindonesia.com)