Monas, Sebuah Kenangan Perjuangan Rakyat Indonesia

By on April 28, 2014

Monumen Nasional atau yang biasa kita sebut Monas adalah sebuah monumen yang berada di Lapangan Monas, Jakarta Pusat. Tujuan awal didirikannya Monas  adalah untuk mengenang pengorbanan dan perjuangan rakyat saat melawan penjajah Belanda. Monas pertama kali didirikan pada tahun 1959 dan baru diresmikan dua tahun setelahnya atau sekitar tahun 1961.

Bentuk Tugu Monas menyerupai bentul Lingga dan Yoni  yang merupakan simbol kesuburan dalam agama Hindu. Tinggi keseluruhan Tugu Monas adalah 137 meter dari ruang bawah tanah hingga puncak Lidah Api.

Secara keseluruhan Monas memiliki empat bagian utama. Yang pertama adalah Lidah Api yang berada di puncak Tugu Monas. Lidah Api Monas terbuat dari perunggu dengan berat 14,5 ton, tinggi 14 meter, dan berdiameter 6 meter. Lidah api ini juga dilapisi emas seberat 35 kg. akan tetapi pada perayaan kemerdekaan Indonesia yang ke 50, lembaran apis dilapisi ulang sehingga mencapai berat 50 kg. sebanyak 28 kg emas dari 38 kg emas yang ada adalah sumbangan dari penguasaha Aceh, Teuku Markam. Lidah Api ini berarti “Api Nan Tak Kunjung Padam” yang bermakna agar Bangsa Indonesia senantiasa memiliki semangat yang menyala-nyala dalam berjuang dan tidak pernah surut atau padam sepanjang masa.

Di bawah Lidah Api terdapat cawan yang bisa digunakan pengunjung untuk melihat panorama Jakarta dari ketinggian sekitar 115 meter. Pengunjung bisa menuju ke pelataran cawan ini dengan menggunakan lift. Pelatara cawan puncak ini bisa menampung hingga 50 orang. Jika cuaca sedang cerah, anda bisa melihat Kepulauan Seribu, Gunung Salak, dan bangunan-bangunan tinggi di Jakarta. Sedangkan untuk pelataran cawan dasar memiliki luas 45×45 meter dengan tinggi 17 meter. Dari sini anda bisa menikmati pemandangan dari hutan taman Monas.

Di dalam cawan dasar terdapat Ruang Kemerdekaan berbentuk amphitheater. Ruangan ini menyimpan beberapa simbol kenegaraan dan kemerdekaan Republik Indonesia. Diantaranya naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang disimpan dalam kotak kaca di dalam gerbang berlapis emas, lambang negara Indonesia, peta kepulauan Negara Kesatuan Republik Indonesia berlapis emas, dan bendera merah putih, dan dinding yang bertulis naskah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia.

Di bagian dasar Monas pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. Ruangan besar yang bisa menampung 500 orang ini dan berlapis marmer ini terdapat 51 diorama. Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru.

Pada halaman luar yang mengelilingi monumen, pada tiap sudutnya terdapat relief timbul yang menggambarkan sejarah Indonesia. Relief ini bermula di sudut timur laut dengan mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan sejarah Singhasari dan Majapahit, perlawanan rakyat Indonesia melawan penjajah, hingga masa pembangunan Indonesia modern.

Monumen dan museum ini dibuka setiap hari, mulai pukul 09.00 – 15.00 WIB. Pada hari-hari libur, Minggu atau libur sekolah banyak masyarakat yang berkunjung ke sini. Harga tiket menuju Cawan dan Museum Rp. 3.500. Bila anda ingin naik hingga ke pelataran puncak maka anda harus membeli tiket lagi seharga Rp. 7.500. (Hikari/ensiklopediaindonesia.com)