N. H Dini Novelis yang Melegenda

By on September 24, 2013

Nama N.H Dini sebagai novelis memang melegenda, hingga kini namanya masih dikenal sebagai penulis wanita yang berprestasi yang telah melahirkan banyak buku / novel yang banyak dibaca penggemar setia karya sastra Indonesia. Terlahir dengan nama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin, lebih dikenal dengan nama NH Dini, wanita ini dikenal selain sebagai sastrawan, novelis sekaligus tokoh feminis Indonesia ini sudah menunjukkan bakatnya di bidang tulis menulis sejak duduk di bangku Sekolah Dasar., ia kerap menuangkan buah pikirannya ke dalam bentuk tulisan. Bungsu dari 5 bersaudara dari seoarang ibu bernama Kusaminah dan ayah bernama Saljowidjojo ini sudah menjadi yatim piatu sejak duduk di Sekolah Menengah Pertama, hal ini membuat ia semakin rajin melakukan kegiatan tulis menulis. Konon semasa kecil ia tumbuh dengan banyak larangan ini dan itu, mungkin hal ini pula lah yang mempengaruhi hobinya menulis, untuk menyalurkan perasaan dan apa yang ada di pikirannya, ibunya yang pembatik secara otomatis mengenalkan seni kepadanya dan saudara-saudaranya yang lain. Biarpun dari kecil sudah senang “berbagi verita” lewat tulisan, Dini Kecil tak lantas ingin menjadi penulis jika besar nanti, ia justru tertarik untuk menjadi seorang masinis atau sopir lokomotif, namun kenyataan berkata lain, menjadi penulis sepertinya sudah menjadi takdirnya. Meski tidak kesampaian berkarir di industri perkereta apian, ia justru sempat mencicipi karir sebagai seorang pramugari pada salah satu maskapai penerbangan nasional ternama. Awal karir menulisnya dimulai saat usia 15 tahun ia menulis sebuah sajak dan prosa berirama yang kemudian dibacakannya sendiri di RRI Semarang kala itu. Ia mengungkapkan bahwa hasil karya tulisannya biasanya berdasarkan dari pengamatan sehari-hari berkenaan dengan kehidupan dan lingkungan, pengalaman hidup, dan lain-lain.

Melalui bakatnya ini ia sudah banyak menerima penghargaan, diantaranya yang berkelas internasional seperti pernghargaan SEA Write Award dari Pemerintah Thailand berkat dedikasinya di bidang sastra. Puluhan karya telah dihasilkannya, diantaranya yang populer ada Pada Sebuah Kapal (1972), Pertemuan Dua Hati (1986), serta Namaku Hiroko (1977) serta masih banyak lagi yang lainnya, itu yang berupa buku yang diterbitkan belum lagi kumpulan cerpen, dan sebagainya. Tokoh dan cerita dalam bukunya kerap mengangkat isu perempuan, membuat ia di cap sebagai penulis feminis karena kebanyakan isi novelnya bercerita tentang perempuan dan kehidupan perempuan, tidak sedikit pula ia kerap memunculkan karakter “aneh” pada tokoh perempuan yang ditulisnya, namun bagaimanapun juga karya-karyanya kerap dikagumi, menuai pujian disamping kritikkan, dan jadi pembicaraan di kalangan komunitas pecinta sastra. NH Dini dinilai sebagai penulis yang telaten dan produktif, di sela-sela kesibukkannya saat menjadi pramugari dulu, ia masih saja sempat menulis dan menerbitkan buku, bahkan saat sedang sakit sekalipun, menurutnya proses paling asik dalam menulis adalah ketika ia mengumpulkan berbagai macam ide,pengamatan, gagasan dan lain-lain ke dalam tulisan-tulisan kecil. Perempuan yang suka bercocok tanam ini menikah dengan Yves Coffin seorang konsultan Prancis yang bertugas di Jepang, kemudian ia dikaruniai dua orang anak bernama Marie-Claire Lintang dan Pierre Louis Padang yang belakangan dikenal sebagai seorang sutradara sebuah film animati terkenal di Hollywod, Despicable Me 2. Sebagai konsekuensi menikah dengan sorang diplomat membuat ia harus rela mengikuti kemanapun suaminya bertugas, berpindah-pindah dari Jepang – Kamboja – Prancis (sembari melahirkan anak keduanya), selama tinggal di Prancis ia dikenal aktif ikut serta dalam organisasi pecinta binatang dan lingkungan. Setelah menjalani kehidupan rumah tangga, tahun 1984 ia berpisah dengan suaminya dan mendapatkan kembali kewarganegaraannya sebagai warga Republik Indonesia, ia pulang ke tanah air dengan tekad untuk tetap menulis dan hidup dari karya-karyanya, sungguh ini adalah keputusan yang amat berani.
sekembalinya ke Indonesia ia mendirikan Pondok Bacaan, makin giat menulis cerpen, dan mengisi kolom cerita di sebuah harian surat kabar. Jatuh bangun ia menjalani kehidupannya sendiri, dalam menjalani hidup apalagi saat sakit keras, tak jarang ia mendapat bantuan dari sahabat-sahabatnya, hal ini membuat hatinya tersentuh. Sejak tahun 2003 ia menetap di Graha Wwredha Mulya, Sinduadi, Mlati, Sleman, Yogyakarta. Disini ia pun membuka taman bacaan, ia ingin anak-anak yang tinggal dekat dengan lingkungannya mengenal budaya membaca. Sempat ia ditawari untuk berkarir di media atau perusahaan penerbitan, kesempatan demi kesempatan ia ia tolak sebab ia tak mau terikat pada satu perusahaan karena ia kuatir justru hal seperti ini akan membuat kreativitasnya berkurang. (Arisca Meir/ensiklopediaindonesia.com) (Foto: lifestyle.kompasiana.com)