Perang Obor, Cara Unik Warga Tegal Sambi Mengungkapkan Syukur

By on January 30, 2015

Indonesia memang tak diragukan lagi dengan kekayaan budayanya. Hampir semua daerah di 33 provinsi yang ada di Indonesia memiliki keunikan budaya masing-masing. Salah satunya ada di Desa Tegal Sambi, Jepara, Jawa Tengah. Budaya unik dari kota ukiran tersebut adalah Perang Obor.

Bagi anda yang pertama kali mendengar Perang Obor, pasti mendengarnya saja agak ngeri karena obor pasti selalu berkaitan dengan api. Obor biasanya digunakan sebagai penerang. Biasanya obor terbuat dari bambu yang tabungnya diisi dengan minyak tanah, lalu ujung dan sumbunya terbuat dari kain, dan terakhir disulut api.

Tentu saja, yang namanya Perang Obor, berati perang menggunakan obor yang telah disulut api, dan digunakan untuk berperang layaknya berperang dengan pedang. Lapangan yang digunakan untuk berlangsungnya Perang Obor pun menjadi terang benderang oleh percikan-percikan api dari obor-obor para ‘tentara’. Tapi tenang, bagi yang terluka karena percikan api tersebut, panitia telah menyiapkan minyak khusus untuk mengobati luka bakar. Dijamin luka bakar akan sembuh dengan cepat.

Perang Obor  ini didasarkan atas legenda Ki Gemblong yang dipercaya oleh Kyai Babadan untuk merawat dan menggembalakan ternaknya. Namun karena terlena dengan ikan dan udang di sungai, ternak tersebut terlupakan sehingga sakit atau mati. Kyai Babadan yang tidak terima dengan kelalaian Ki Gemblong, memukul Ki Gemblong dengan obor dari pelapah kelapa. Akibatnya ia menggunakan obor serupa untuk membela diri. Tanpa diduga, benturan kedua obor menyebarkan api di tumpukan jerami di sebelah kandang. Ternak yang awalnya sakit tiba-tiba menjadi sembuh.  Kepercayaan terhadap api obor yang mampu mendatangkan kesehatan dan menolak bala inilah yang digunakan sebagai dasar pelaksanaan upacara Perang Obor.

Sebelum perang obor dilaksanakan, segenap tokoh warga Tegal Sambi melakukan ziarah kubur ke tempat makam leluhur desa Tegal sambi dan di teruskan dengan membaca doa-doa dan ayat ayat suci al quran.sebelum api obor di sulut pusaka desa. Peralatan perang obor berupa daun kelapa kering yang sudah di gulung di arak oleh kepala desa diiringi pamong atau perangkat desa menuju tempat pelaksanaan untuk melakukan ritual doa bersama agar di beri kelancaran saat perang obor digelar. Selain perang obor, wayang kulitpun ikut dipentaskan semalam suntuk.

Perang obor biasanya dilakukan pada saat setelah musim panen, di hari ke sepuluh di bulan Dzulhijjah atau pada hari senin pahing malam selasa pon tiap setahun sekali. Perang obor ini ternyata bertujuan sebagai ritual tolak bala dan ucapan syukur masyarakat Tegal sambi atas panen yang melimpah. (foto: choirmuhammad)