Perang Pandan Bali

By on January 10, 2015

Dari sekian banyak daerah wisata di Indonesia, Bali merupakan salah satu daerah yang paling gencar menjalankan promosi pariwisatanya. Tak hanya menarik wisata dengan mempromosikan pantai-pantainya yang terkenal keindahannya, tetapi juga sering menarik wisatawan dengan kekayaan budaya Bali. Selain menjalankan tradisi yang sudah ada sejak jaman nenek moyang, pelaksanaan budaya dan adat di Bali juga cukup menarik perhatian para wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Salah satu tradisi yang bisa Anda saksikan adalah tradisi Perang Pandan.

Tradisi Perang Pandan bisa disaksikan di Desa Tenganan, yang terletak di 70 km timur Denpasar, Bali. Desa ini juga disebutt Bali Aga karena merupakan salah satu desa tertua di Bali. Bentuk desa ini cukup unik, karena hanya memiliki empat pintu dengan sistem penjagaan. Karena itu, memudahkan untuk tahu siapa saja yang datang dan pergi dari desa tersebut.

Dari segi kepercayaan, masyarakat Desa Tenganan memiliki kepercayaan yang sedikit berbeda dari masyarakat Bali pada umumnya. Masyarakat disini mengenal Dewa Indra (Dewa Perang) sebagai dewa dari segala dewa, mereka juga tidak mengenal kasta. Selain itu, mereka juga memiliki awig-awig atau aturan tertulis yang diwariskan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka.

Tradisi Perang Pandan biasanya dilakukan setiap tahun pada bulan juni, atau sasih kalima (bulan kelima pada kalender Bali) dan dilakukan selama 2 hari. Tempat pelaksanaan upacara Mekare-kare ini adalah didepan balai pertemuan yang ada di halaman desa. Waktu pelaksanaan biasanya dimulai jam 2 sore dimana semua warga menggunakan pakaian adat Tenganan (kain tenun Pegringsingan), untuk  para pria hanya menggunakan sarung (kamen), selendang (saput), dan ikat kepala (udeng) tanpa baju, bertelanjang dada.

Sebelum dilakukan Perang Pandan, ada beberapa hal yang perlu disiapkan. Antara lain pandan berduri diikat menjadi satu berbentuk sebuah gada, sedangkan untuk perisainya yang terbuat dari rotan. Setiap pria  (mulai memasuki usia remaja) didesa ini wajib ikut dalam pelaksanaan Perang Pandan. Perang Pandan dilakukan diatas panggung berukuran sekitar 5 x 5 meter persegi itu. Dengan tinggi sekitar 1 meter.

Sebelum Perang Pandan dimulai, sebagai permulaan, masyarakat Desa Tenganan  mengelilingi desa untuk memohon keselamatan, kemudian diadakan ritual minum tuak, tuak dalam di bambu dituangkan ke daun pisang yang berfungsi seperti gelas.  Peserta perang saling menuangkan tuak ke daun pisang peserta lain. Kemudian tuak tersebut dikumpulkan menjadi satu dan dibuang kesamping panggung.

Pelaksanaan Perang Pandan tidak dilakukan secara berbarengan seperti perang pada umumnya. Para peserta disini akan melawan satu lawan satu. Mereka berhadap-hadapan dengan seikat daun pandan di tangan kanan dan perisai terbuat dari anyaman rotan di tangan kiri. Penengah layaknya wasit berdiri di antara dua pemuda ini.

Setelah penengah mengangkat tangan tinggi-tinggi, dua pemuda itu saling menyerang. Mereka memukul punggung lawan dengan cara merangkulnya terlebih dulu dan saling memukul punggung lawan dengan pandan berduri dan menggeretnya. Gamelan ditabuh dengan tempo cepat. Dua pemuda itu saling berangkulan dan memukul hingga jatuh, hingga penengah memisahkan keduanya.

Pertandingan ini tidak berlangsung lama. Setelah selesai dengan satu pertandingan langsung disambung pertandingan yang lain, Ini dilakukan bergilir.

Seusai upacara tersebut semua luka diobati dengan ramuan tradisional berbahan kunyit yang konon sangat ampuh untuk menyembuhkan luka. Tradisi ini adalah bagian dari ritual pemujaan masyarakat Tenganan kepada Dewa Indra, dewa perang yang dihormati dengan darah lewat upacara perang pandan, dilakukan tanpa rasa dendam, meski harus saling melukai dengan duri pandan. Setelah Perang Pandan selesai kemudian ditutup dengan bersembahyangan di Pura setempat dilengkapi dengan mempersembahkan/menghaturkan tari Rejang. (Hikari/ensiklopediaindonesia)