Perjalanan Membidik Mimpi Seorang Birrul Qodriyah

By on February 28, 2014

“Setiap detik dan waktu adalah prestasi dan satu langkah meraih RidhoNya”, inilah tulisan pertama yang akan anda lihat saat mengunjungi salah satu social media milik Birrul Qodriyah, Mahasiswi FK UGM angkatan 2010 ini. Terlihat jelas meski hanya dari tulisan dari cover fotonya bahwa ia adalah seorang anak yang tangguh tak hanya dalam prestasinya tetapi juga dalam kehidupan religinya.

Birrul pertama kali dikenal oleh masyarakat luas saat ia menjadi wakil dari ratusan mahasiswa penerima Bidik Misi dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyampaikan testimoninya adalam acara silaturrahim mahasiswa Bidik Misi di Jakarta. Ia bahkan bisa membuat seorang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menitikan air matanya saat mendengar cerita Birrul.

Birrul merupakan salah satu dari sekian banyak anak yang kurang beruntung yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Orang tuanya hanyalah seorang buruh tani yang hanya berpenghasilan lima ribu rupiah perharinya. Beruntung ia memiliki record prestasi yang mengagumkan sejak ia masih SD sehingga ia sering terbantu dengan beasiswa untuk melanjutkan pendidikannya.

Ia sudah sejak lama memendam impiannya untuk menjadi seorang dokter. Ia tuliskan mimpinya itu dalam kertas dan ditempelkan pada dinding kamarnya. Banyak orang yang mencemoohnya, bagaimana bisa seorang anak buruh tani menjadi seorang dokter, tapi itu tidak menyurutkan langkahnya, bahkan menjadikannya sebagai motivasi untuk menggapai mimpinya tersebut.

Setelah ia lulus SMA , ia mengutarakan keinginannya pada kedua orang tuanya untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Tapi ia tahu, orang tuanya tidak mampu untuk membiayai sekolahnya ke bangku perkuliahan. Keduanya orang tuanya hanya diam saat mendengar permintaan putri sulungnya tersebut. Birrul hanya melihat ayahnya setiap pagi mengayuh sepeda habis shubuh. Tak dinyana, melihat kesungguhan Birrul, sang ayah M Jawahari rela bersepeda dari Bantul hingga Klaten untuk mencarikan beasiswa untuk putrinya, tetapi kenyataannya tak semudah itu. Prestasi birrul yang menjadi kebanggaan ayahnya belum cukuo untuk meyakinkan para pihak sponsor.

Melihat kegigihan ayahnya, Birrul pun termotivasi untuk mendaftarkan diri dalam beasiswa Bidik Misi. Ia pun mendaftarkan diri di Fakultas Kedokteran UNAIR  (Surabaya) dan Ilmu Keperawatan UGM (Yogyakarta). Mengingat cita-citanya yang ingin menjadi dokter, pastinya ia akan memilih Fakultas Kedokteran di UNAIR, tapi akhirnya ia memilih Ilmu Keperawatan UGM. Ia tak ingin egois, karena pengumunan UGM yang terlebih dulu keluar, dan jika ia tidak mengambilnya, adik-adik kelasnya akan terblokir. Ia yakin segala bidang memiliki prospek karir yang cerah.

Selama kuliahnya, Birrul termasuk anak yang berprestasi, terbukti dengan  sejumlah perlombaan dan prestasi yang ia dapatkan. Ia juga membuat Kamus Kedokteran Bahasa Jawa bersama empat mahasiswa UGM lainnya. Tak hanya prestasinya yang mengagumkan, ia pun termasuk mahasiswa yang aktif dalam organisasi. Ia pernah menjabat sebagai ketua HIMIKA MORPHOSA UGM 2012. Inilah yang menjadi bukti bahwa seorang yang aktif berorganisasi pun bisa berprestasi dalam akademik. Semoga yang telah dicapai dengan Birrul dengan semua perjuangannya bisa menjadi pemantik semangat bagi teman-teman sekalian. (Hikari/ensiklopediaindonesia.com) (foto: fk.ugm.ac.id)