Pulau Kemaro, Sekelumit Sejarah Di Tengah Sungai Musi

By on December 30, 2014

Jika anda berjalan-jalan disekitar sungai Musi, anda akan melihat sebuah pulau kecil yang seakan-akan terapung di tengah sungai Musi, Pulau Kemaro namanya. Kemaro sendiri dalam bahasa Palembang berari ‘kemarau’. Menurut masyarakat sekitar, jika air sungai Muasi sedang pasang, pulau ini tidak pernah tergenang air, maka dari itu diberi nama pulau Kemaro.
Terletak sekitar 6 km dari jembatan Ampera, pengunjung bisa mengunjungi pulau ini menggunakan kapal-kapal kecil yang ada disepanjang bantaran sungai Musi. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk mencapai pulau ini dari bawah jembatan Ampera. Sebelum anda sampai di Pulau Kemaro, megahnya Pagoda yang ada di pulau ini sudah bisa terlihat dari kejauhan.
Keika anda pertama kali menginjakan kaki di Pulau Kemaro, makan akan terasa nuansa Tionghoa yang kental. Hal ini bisa dirasakn dari warna merah khas Tionghoa yang ada di Pagoda dan klenteng di pulau tersebut. Pagoda yang dibangun 2006 lalu ini memiliki 9 lantai dan merupakan Pagoda tertinggi di Palembang sekaligus menjadi ikon utama Pulau Kemaro. Selain Pagoda, di Pulau Kemaro juga terdapat sebuah Kelenteng Budha yang sering dijadikan tempat untuk merayak perayaan Cap Go Meh.
Pulau Kemaro ini juga mempunyai legenda tersendiri yang menceritakan kisah cinta antara Putri Raja Palembang, Siti Fatimah dengan saudagar kaya sekaligus pangeran asal negeri China, Tan Bun Ann. Keduanya saling jatuh cinta dan sepakat untuk menikah. Siti Fatimah mengajukan syarat pada Tan Bun Ann untuk menyediakan sembilan guci berisi emas. Tan Bun Ann kemudian mengirim seorang pengawalnya pulang ke Tiongkok untuk meminta emas dan restu pada orang tuanya. Tentu saja permintaan ini disetujui orang tua Tan Bun Ann. Untuk menjaga emas tersebut dari bajak laut, guci berisi emas tersebut ditutupi dengan asinan sawi.
Sesampainya di dekat Pulau Kemaro, Tan Bun Ann terdorong untuk memeriksa isi guci. Melihat isinya hanya asinan sawi, ia pun kesal dan membuang guci-guci itu ke sungai. Namun, guci terakhir yang ia lempar tidak sengaja pecah. Di situlah ia melihat keping-keping emas. Rasa kecewa dan menyesal membuat sang anak raja memutuskan untuk menerjunkan diri ke sungai dan tenggelam. Sang putri pun ikut menerjunkan diri ke sungai dan juga tenggelam. Sang putri dikuburkan di Pulau Kemaro tersebut dan untuk mengenangnya dibangunlah kuil.
Hal unik lain dari Pulau Kemaro adalah keberadaan Pohon Cinta. Pohon Cinta ini adalah sebuah beringin yang sudah cukup tua dengan ranting yang sangat rimbun. Konon, bila seseorang menuliskan nama dirinya dan pasangannya di pohon itu, maka jalinan cinta mereka akan semakin langgeng. Karena itulah, pulau ini juga disebut sebagai Pulau Jodoh.