Sapardi Djoko Damono, Sajak-sajaknyanya yang Sederhana Tidak Terlupa

By on August 1, 2013

Jika anda pecinta sastra atau hobi membaca buku tentu tidak asing dengan nama ini. Jika memang tidak tahu siapa sosok pria yang tenar leawt karya-karyanya yang menarik hati ini, simak ulasan profilnya berikut ini, Sapardi Djoo Damono seorang pemikir, penyair sekaligus keritikus sastra kenamaan, ia terkenal dengan karya-karya pusisinya yang melodius serta membius emosi pembacanya. Lahir di Surakarta 20 Maret 1940, anak sulung dari pasangan Sadyoko dan Sapariah ini mengalami masa kecil dengan background perang kemerdekaan, pemandangan seperti pesawat yang menjatuhkan bom atau rumah-rumah terbakar sudah biasa baginya, pada masa kecil kehidupannya yang awalnya berkecukupan juga pernah pula mengalami masa-masa sulit. Darah seni sepertinya memang sudah mengalir didirinya sejak dulu usianya masih belia, mungkin pula diwarisi kakeknya yang juga punya keahlian menatah wayang kulit. Ia mengaku belajar menulis serius mulai tahun 1957 kala itu ia sedang mengenyam bangku Sekolah Menengah Atas, tidak menyangka hasil tulisannya diapresiasi oleh majalah kebudayaan yang terbit di Semarang, sejak saat itu ia mulai aktif menelurkan karya yang muncul di halaman-halaman penerbitan. Gairahnya menulis dirangsang oleh kegemarannya membaca. Sapardi dikenal dengan gaya puisinya yang menggunakan kata-kata sederhana namun mengena. Kesukaannya menulis semakin berkembang saat ia tercatat menjadi mahasiswa jurusan Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Kemudian ia melanjutkan untuk memperdalam ilmu pengetahuannya di Universitas hawaii, Honolulu, Amerika Serikat dan meraih gelar Doktor di Universitas Indonesia pada tahun 1989 lalu tahun 1975 beliau tercatat sebagai dosen yang mengajar di Fakultas Sastra UI.

Selain karya-karyanya yang kondang, ia juga kerap menerima penghargaan baik di dalam maupun dari luar negeri, tahun 1986 ia meraih anugerah SEA Write Award, tahun 2003 mendapat Penghargaan Achmad bakrie, dan masih banyak penghargaan lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Sajak-sajaknya sudah pernah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa termasuk bahasa daerah, tidak hanya fokus pada penulisan puisi, Sapardi pun kerap menulis cerpen, selain itu ia juga menterjemhkan berbagai karya penulis asing seperti jalaluddin Rumi dan Kahlil Gibran, aktif menulis esai di berbagai surat kabar termasuk kolom olah raga. Beberapa karya puisinya yang sangat terkenal seperti Aku ingin, Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, kerap menjadi favorit dan acuan bagi mereka yang sedang mempelajari karya sastra. Sajak dan puisinya juga pernah direfleksikan ke dalam sebuah album atau direkam dalam bentuk musikal.

Berikut salah satu penggalan karyanya yang populer :

“aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
  Sapardi Djoko Damono

 (dari berbagai sumber/Arisca Meir/inloveindonesia.com) (Foto: metrobali.com)