Suweg Raksasa (Bunga Bangkai)

By on March 11, 2013

Bunga bangkai atau suweg raksasa atau batang krebuit (nama lokal untuk fase vegetatif), Amorphophallus titanum, merupakan tumbuhan dari suku talas-talasan (Araceae) endemik dari Sumatera, Indonesia, perbungaannya dalam dunia botani dikenal sebagai perbungaan yang terbesar di dunia. Perbungaannya pada saat mekar mengeluarkan bau busuk seperti bangkai binatang, yang dimaksudkan sebenarnya untuk mengundang kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya, karena itu Suweg ini dikenal pula dengan “Bunga Bangkai Raksasa”.  Banyak orang sering salah mengira dan tidak bisa membedakan bunga bangkai dengan “Rafflesia arnoldii” mungkin karena orang sudah mengenal bahwa Rafflesia sebagai bunga terbesar dan kemudian menjadi bias dengan ukuran bunga bangkai yang juga besar.

Tumbuhan ini memiliki dua fase dalam kehidupannya yang muncul secara bergantian, fase vegetatif dan fase generatif. Pada fase vegetatif muncul daun dan batang semunya. Tingginya dapat mencapai 6m. Setelah beberapa waktu (tahun), organ vegetatif ini layu dan umbinya dorman. Apabila cadangan makanan di umbi mencukupi dan lingkungan mendukung, bunga majemuknya akan muncul. Apabila cadangan makanan kurang tumbuh kembali daunnya.

Apabila pembuahan terjadi, akan terbentuk buah-buah berwarna merah dengan biji di pada bagian bekas pangkal bunga. biji-biji ini dapat ditanam. Setelah bunga masak, seluruh bagian generatif layu. Pada saat itu umbi mengempis dan dorman. Apabila mendapat cukup air, akan tumbuh tunas daun dan dimulailah fase vegetatif kembali. Karena keunikan bunga ini, bunga ini sering diperjualbelikan oleh manusia, itulah faktor utama bunga ini langka. Selain itu Di tempat lain populasinya sudah menurun akibat habitatnya sudah berubah status menjadi lahan untuk perumahan, pertanian dan perkebunan. Selain itu mengingat jenis ini belum diketahui manfaatnya dan keberadaannya cukup mengganggu akibat bau busuk menyengat pada saat berbunga, penduduk cenderung untuk memotong baik bagian daunnya maupun bunganya dengan parang. Dengan demikian populasi tumbuhan dewasa semakin terancam jumlahnya. (Hikari Chan/inloveindonesia.com)