Tari Ronggeng Gunung, Antara Dendam dan Cinta

By on March 27, 2013

Jika kita berbicara tentang kesenian Indonesia, maka tak akan ada habisnya. Setiap daerah memiliki keunikannya sendiri. Salah satunya adalah kesenian dari Ciamis yang sangat terkenal. Kesenian itu adalah Tari Ronggeng Gunung. Tarian ini tersebar hampir diseluruh tanah pasundan termasuk Pangandaran yang menjadi tujuan wisata favorit sejak dahulu.

Bagi masyarakat Pangandaran, tari ronggeng gunung merupakan salah satu hiburan yang tidak sepi peminat, khususnya untuk kaum muda di Pangandaran. Bisa jadi hal ini karena pementasannya melibatkan wanita-wanita cantik yang luwes menggerakkan tubuh dan jemari lentik mereka sehingga menghibur penontonnya.

Dalam sejarah Tari Ronggeng dikisahkan sebagai bentuk  penyamaran Dewi Siti Semboja dari Kraton Galuh Padjajaran yang ingin membalas dendam karena kekasihnya telah dibunuh. Untuk menemukan pembunuhnya, ia dan pengiringnya menyamar menjadi Nini Bogem, yaitu seorang penari Ronggeng keliling yang diiringi para penabuh gamelan.

Tari Ronggeng itu sendiri sebenarnya bukan hanya sekedar hiburan, tapi juga sebagai pengantar upacar adat. Dalam mitologi Sunda, Dewi Siti Samboja hampir sama dengan Dewi Sri Pohaci yang selalu dikaitkan dengan kegiatan bertani dan kesuburan. Karenanya Tari Ronggeng umumnya menggambarkan kegiatan saat bercocok tanam, seperti turun ke sawah, menanam padi, hingga syukuran atas hasil panen.

Pertunjukan tari ronggeng gunung biasanya dibedakan bentuk pementasannya apakah untuk keperluan pertunjukkan adat atau untuk hiburan. Tari ronggeng untuk upacara adat biasanya dibawakan dengan pakem atau aturan tertentu, yaitu adanya tata urutan lagu. Sementara itu, tari ronggeng untuk hiburan biasanya lebih fleksibel karena tidak ada pakem urutan lagu.

Bagi masyarakat Ciamis Selatan, tari ronggeng gunung bukan semata sarana hiburan tetapi juga digunakan sebagai pengantar upacara adat saat panen raya, perkawinan, khitanan, dan penerimaan tamu. Sebelum pertunjukan dimulai, biasanya akan diadakan sesajen untuk persembahan kepada para leluhur dan roh-roh yang ada di sekitar tempat digelarnya tarian agar pertunjukan berjalan lancar.

Oleh pemerintah Jawa Barat dan pemerintah Pangandaran, Pementasan Tari rutin dilakukan sebagai upaya untuk terus melestarikan kesenian yang hampir dilupakan ini sekaligus untuk meningkatkan citra pariwisata di Pangandaran. (Hikari Chan/inloveindonesia.com)