Tri Risma Harini, Seorang Ibu Penakluk Kota Surabaya

By on June 21, 2014

Siap yang tak mengenal sesosok ibu yang bernama Tri Risma Harini. Beliau berhasil memukau 220 juta masyarakat Indonesia dengan kegigihannya menaklukan Kota Subaya dan menutup tempat prostitusi terbesar se-Asia Tenggara, Dolly. Lahir di Kediri, 20 November, 52 tahun silam, Beliau menjadi wanita pertama yang terpilih menjadi walikota Surabaya.

Keberhasilannya menata Kota Suabaya bukan berarti tanpa ilmu. Berbekal gelar arsitektur dan pasca sarjana Manajemen Pembangunan Kota ITS, Risma mulai membenahi kota Surabaya dengan turun ke jalan langsung mengatur kota. Beliau berkomitmen untuk tidak berpangku tangan dan menyuruh anak buahnya saja.

Kan sekolahnya di Surabaya. Karena itu tak heran jika ia begitu mengenal dengan seluk beluk kota Surabaya lengkap dengan kemacetannya. Dalam banyak cerita, Risma bahkan sering ditemui warga mengatur jalanan yang macet, menyapu dan membersihkan jalan, demi mewujudkan impian kota Surabaya yang lebih asri dan tertata.

Karier Risma di dunia tata kota juga tidak sebentar. Sejak tahun 1997, ia telah menjabat Kepala Seksi Tata Ruang dan Tata Guna Tanah Bapekko Surabaya, kemudian ia juga menjadi Kepala Seksi Pendataan dan Penyuluhan Dinas Bangunan Kota Surabaya, Kepala Cabang Dinas Pertamanan Kota Surabaya, Kepala Bagian Bina Bangunan, Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan, Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya dan berlanjut dengan pengangkatannya sebagai Walikota. Jajaran pengalaman itulah yang menjadi bekal keberanian dan ketegasannya mengubah wajah Surabaya menjadi kota yang rapi.

Prestasi yang diperoleh pun tak tanggung-tanggung. Surabaya meraih tiga kali piala adipura, tahun 2011, 2012 dan 2012 selama berada di bawah kepemimpinannya. Ia bahkan menjadikan kota Surabaya meraih predikat taman terbaik se-Asia tahun 2013 dengan gelar The 2013 Asian Townscape Award dari Perserikatan Bangsa-Bangsa. Wajah taman Bungkul benar-benar dirubah menjadi lokasi yang sangat nyaman bagi masyarakat, hijau, bersih, dan tak ada lagi para pedagang kaki lima. Terlebih dengan adanya fasilitas WiFi yang bisa diakses di taman kota.

Namun itikat baiknya untuk mengubah Surabaya menjadi lebih baik tidak selalu berjalan mulus. Tak sedikit orang yang berusaha menjegal usaha Risma. Beberapa waktu lalu, diwawancarai dalam sebuah program di stasiun televisi swasta, Risma buka-bukaan soal ‘kelelahan’-nya. Ia sempat mendapatkan ancaman karena aksinya menata kota Surabaya. Padahal, yang ia lakukan adalah demi kepentingan rakyat banyak, demi kota Surabaya, bukan kepentingan pribadi.

Beberapa waktu lalu muncul di berbagai social media dan pesan broadcast di BBM sebuah kutipan dari Risma yang berbunyi, “Saya sdh pamit pd keluarga utk menutup Gang Dolly hari ini. Kalo saya mati,ikhlaskan.” Pesan berantai tersebut adalah salah satu warna dari rencana penutupan Dolly.

Pesan berantai yang hingga hari ini masih beredar, disertai dengan hashtag #SurabayatutupDolly tersebut berhasil menggemparkan jagad social media. Meraih banyak simpati dari pengguna social media dan merangkul dukungan yang lebih banyak lagi.

Terima kasih Bu Risma atas semua usaha untuk menjadikan Kota Surabaya semakin baik, semoga rencana dan impian akan Surabaya yang asri dan makmur tercapai dengan setip peluh dan air mata yang tertetes. (ensiklopediaindonesiacom)