Ungkapkan Syukur Para Petani Tebu Lewat Pengantin Tebu

By on March 30, 2015

Ada yang hal unik yang akan anda temui sesaat musim panen tebu dan musim giling tebu di daerah-daerah di Jawa, khususnya di sekitar pabrik-pabrik gula yang ada. Hampir semua daerah itu menggelar tradisi atau ritual tahunan Pengantin tebu atau kirab pengantin tebu.

Tradisi pengantin tebu dilaksanakan dalam menyambut masa panen tebu dan giling tebu di pabrik-pabrik gula tersebut yang ada disekitar pemukiman warga. Mereka mengarak sepasang pengantin boneka yang disebut sebagai temanten tebu itu digirng dari kebun tebu hingga ke mesin penggilingan. Tradisi ini dilakukan juga sebagai rasa syukur atas hasil penanaman tebu yang diperoleh, selain itu sebgai simbol permohonan berkah dan keselamatan untuk memproses (menggiling) tebu menjadi gula, dan agar hasil panen lebih meningkat lagi di masa mendatang.

Dengan dipimpin tokoh adat setempat, ritual pengantin tebu dimulai. Dua batang tebu disiapkan, keduanya dinamakan ‘tebu pengantin pria’ dan ‘tebu pengantin wanita’, bahkan ada juga yang menamai kedua tebu tersebut. Selain itu, disiapkan juga para tebu-tebu penggiring. Saat melakukan kirab / giring tebu ini juga diiringi beberapa orang berpakaian berpakaian ala Jawa dengan mengenakan beskap. Mereka mengawali prosesi ini dengan melakukan kirab terlebih dahulu. Selain rangkaian acara seperti kirab, tradisi pengantin tebu juga dimeriahkan oleh atraksi seni seperti jaranan, gending jawa, pasar kaget.

Dari sekian daerah yang melaksanakan tradisi ini antara lain Klaten, Lumjang, Cirebon, Kediri, Tegal, Kendal dan lainnya. Meski memiliki ritual yang sama tetapi nama tradisi ini berbeda-beda sesuai daerahnya. Contohnya di Klaten dinamakan Kirab pengantin tebu, di Lumajang disebut Mantenan Tebu, sedangkan di Cirebon disebut kawin tebu. (Hikari/ensiklopediaindonesia.com)