Wisata Magis di Tana Toraja

By on March 26, 2013

Surga itu bernama Tana Toraja, sebuah lembah subur dengan sistem terasering untuk sawahnya yang hijau dan perkebunan kopi yang subur. Tana Toraja dianugrahi dengan pemandangannya yang menakjubkan, budayanya yang beragam dan dunia magisnya yang kental.

“Toraja” itu sendiri konon berasal dari kata ‘to riaja”, yaitu sebutan untuk orang yaang berarti oarng yang mendiami dataran tinggi di utara. Meskipun mayoritas telah memeluk agama kristen dan agama Islam, namun masyarakat Toraja masih mempertahankan budayanya yang khas dan unik.

Salah satunya daalah tongkonan. Tongkonan adalah rumah adat khas Tana Toraja. Atapnya terbuat dari daun nipa atau kelapa yang mampu bertahan hingga 50 tahun. Tongkonan ini juga bisa membedakan strata sesuai derajat kebangsawanan.

Ada juga upacara pemakaman seperti Rambu Solo. Meski hingga kini Rambu Solo sudah tidak digunakan lagi, namun sisa peninggalan salah satu budaya itu masih ada hingga kin. Salah satu upacara Rambu Solo itu sendiri adalah upacara pemakaman bagi anak kecil berusia 0-7 tahun. Ketika seorang bayi meninggal, maka ia akan dikuburkan pada sebuah pohon Tarra. Sebelum dikuburkan, pohon tersebut dilubangi dan mayat bayi diletakan di dalamnya lalu ditutupi dengan serat pohon kelapa berwarna hitam. Setelah puluhan tahun, maka jasad bayi itu akan menyatu dengan pohon. Hingga kini pohon tersebut masih tegak berdiri dan menjadi salah satu daya tarik di Tana Toraja.

Tana Toraja juga terkenal dengan upacara kematian (Rambu Solo) yang dapat berlangsung selama berhari-hari dan melibatkan seluruh penduduk desa. Upacara kematian, diadakan setelah musim panen selesai. Biasanya antara bulan Juli dan September. Sementara upacara kehidupan digelar saat musim tanam di bulan Oktober. Saat itu penguburan tidak di lakukan dengan segera tetapi ditunda selama beberapa bulan bahkan kadang bertahun-tahun, disimpan di rumah khusus hingga waktu yang tepat dan tersedianya dana. (Hikari Chan/inloveindonesia.com)