Yogi Ahmad Erlangga, Ilmuwan Jenius Indonesia Pemecah Rumus Helmholtz

By on November 17, 2015

yogi-ahmad

Mengulang kesuksesan BJ Habibie sebagai penemu rumus yang mampu meringkas prediksi perambatan retak yang dipakai di lembaga-lembaga berbagai Negara, termasuk NASA di Amerika, kini seorang ilmuwan Indonesia bernama Yogi Ahmad Erlangga, kembali menjadi incaran konglomerat bisnis minyak dunia dan berbagai universitas terkenal di dunia sebagai pembicara.

Yogi Ahmad Erlangga adalah seorang pria kelahiran Tasikmalaya 8 oktober 1974. Selepas lulus dari pendidikan SMAnya, ia melanjutkan pendidikan S1 di ITB dan mengambil jurusan Teknik Penerbangan. Setelah ia lulus dari ITB pada tahun 1998, ia langsung meneruskan studinya mengambil jurusan Matematika Terapan di Delft University of Technology (DUT), dan langsung melanjutkan pendidikan doktoralnya di universitas yang sama dan jurusan yang sama. Melalui riset untuk meraih gelar Ph. D-nya inilah, Yogi berhasil memecahkan rumus persamaan Helmholtz pada tahun 2005 silam.

Rumus persamaan matematika itu sendiri sudah dikenal sejak satu abad silam. Namun selama 30 tahun terakhir, belum ada ilmuwan yang mampu memecahkan rumus Helmholts yang sering digunakan untuk menemukan titik lokasi minyak bumi. Selama ini, para perusahaan minyak dunia mengalami kesulitan dan selalu membutuhkan biaya yang besar untuk menemukan titik lokasi minyak bumi. Namun dengan terpecahkannya rumus Helmholtz, pencarian minyak menjadi 100 kali lebih cepat dan efisien sekaligus menghemat pembiayaan.

Tidak hanya itu, perusahaan industry minyak juga dapat mereduksi penggunaan hardware sampai 60 persen dari biasanya. Misalnya, sebelumnya untuk menyelesakan program tiga dimensi dibutuhkan sekitar 1000 komputer, maka dengan rumus Helmholtz oleh Yogi ini, pemograman tersebut dapat terselesaikan hanya dengan 300 komputer.
Penelitian Helmholtz ini ia mulai lakukan pada Desember 2001 silam. Saat itu, perusahaan minyak raksasa, Shell, mendatangi DUT untuk meminta penyelesaian persamaan Helmholtz secara matematik numeric atau robust. Dalam penelitiannya, Yogi menggunakan metode “Ekuasi Helmholtz” yang biasa digunakan untuk mengukur gelombang akustik. Sebenarnya persamaan ini telah ditemukan sejak satu abad silam, dan digunakan untuk menemukan lokasi minyak bumi. Setelah melakukan riset yang menghabiskan dana sekitar 6 milyar tersebut, Yogi berkat kejeniusan yang ia miliki, ia pun berhasil memecahkan rumus tersebut.
Yogi bisa saja mematenkan hasil temuannya, dan memungkinkan mendapat uang yang sangat besar. Akan tetapi ia menolak untuk meng-hakpatenkan penemuannya tersebut dengan alasan bahwa dengan mematenkan temua, justru akan menghambat perkembangan ilmu pengetahuan. Riset Thesis S3-nya pun berhasil terpilih menjadi thesis terbaik di Belanda oleh MNC.

Tak hanya industry perminyakan saja yang dapat menggunakan rumus temuannya, industry-industri lain seperti penerbangan, kapal selam, industry radar, serta ilmu lainnya yang berkaitan dengan gelombang elektromagnetik dapat mengaplikasikan rumus Helmholtz.